Sebuah Wacana: Provinsi Kalimantan Tenggara*

 

Kalimantan Tenggara, saat ini hanyalah sebuah isu dan wacana. Namun bisa jadi isu ini sudah sejak lama telah beredar. Entah sejak kapan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dahulu pada tahun 1947-1950 telah terbentuk Federasi Kalimantan Tenggara, yang merupakan sebuah bentuk negara yang tegak berdiri sebagai daerah bagian dari RIS, namun bukan negara bagian. Daerah bagian Kalimantan Tenggara merupakan penggabungan 3 Neo-landschap (Stb. 1947 Nomor 3):

  1. Dewan Pulau Laut, terdiri Distrik Pulau Laut Utara dan Distrik Pulau Laut Selatan
  2. Dewan Pagatan, terdiri Distrik Pagatan, Distrik Batulicin, Distrik Kusan
  3. Dewan Cantung Sampanahan

Dalam laman kompasiana, Imi Suryaputera[i] menyebutkan sudah ada empat kabupaten yang menyatakan ingin membentuk Kalimantan Tenggara. Kabupaten tersebut yaitu kabupaten Penajam Paser Utara, Kutai Barat, Paser, dan Tanah Bumbu. Adapun Sesepuh dan Tokoh Masyarakat Balikpapan, Rendy Ismal mengklaim 5 daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan sepakat membentuk Propinsi Kalimantan Tenggara. Lima daerah itu di antaranya Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Barat bagian dari Kalimantan Timur, serta Kotabaru dan Tanah Bumbu yang merupakan bagian dari Kalimantan Selatan saat ini.

Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara bukan merupakan wilayah yang asing bagi orang kotabaru dan Tanah Bumbu, karena dua wilayah ini asal muasalnya merupakan bagian dari Kabupaten Kotabaru. Undang-undang Nomor 27 tahun 1959 pada tanggal 29 Desember 1959, lah yang menyebabkan Kabupaten Paser terbentuk dan ikut Provinsi Kalimantan Timur. Kekerabatan yang terjalin antara kabupaten serumpun ini sejak dahulu hingga sekarang masih dijaga. Salah satunya adalah pertunjukan kesenian dari seniman Kotabaru, Tanah Bumbu, Paser, Penajam Pasir Utara dan Kutai yang dihelat di Siring Laut Kotabaru.

Sebagai seorang penduduk yang berada pada salah satu dari wilayah Kalimantan Tenggara, tentunya isu ini menjadi menarik untuk diangkat. Setidaknya ada tiga alasan untuk mengangkat topik menjadi sebuah tulisan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu sudut kota di Tanah Bumbu (Sumber: Dokumentasi Pribadi Abdurrahman)

 

Pertama, jarak kabupaten Kotabaru-Tanah Bumbu ke ibukota provinsi di Banjarmasin serta perkantoran pemerintah provinsi di Banjarbaru relatih jauh jika dibandingkan dengan kabupaten lain di wilayah Kalimantan Selatan. Perjalanan normal menggunakan angkutan darat bisa menghabiskan waktu rata-rata 6 s.d 7 jam Batulicin-Banjarmasin dan 8-9 jam Kotabaru-Banjarmasin. Waktu perjalanan ini akan semakin bertambah, jika disertai istirahat serta antri di penyeberangan feri Batulicin-Tanjung Serdang. Bagi mereka yang sering bolak-balik ke Banjarmasin tentu akan sangat melelahkan dan perjalanan yang sangat membosankan. Namun akan berbeda jika pusat pemerintahan jika Kalimantan Tenggara kelak terwujud misalkan di Batulicin atau Kotabaru. Ketergantungan dengan Banjarmasin dapat diminimalisir. Segala urusan tidak harus ke Banjarmasin.

Kedua, pembangunan Tanah Bumbu dan Kotabaru, relatif jarang disentuh oleh Pemerintah Provinsi jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Gubernur saja, selama saya di Tanah Bumbu, sangat dan sangat jarang ke Batulicin, apalagi ke Kotabaru. Jikapun ada ke kotabaru, pastilah kunjungannya sangat singkat. Alasan geografis bisa saja menjadi alasan. Namun akan berbeda jika Kalimantan Tenggara terbentuk, gubernur Kalimantan Tenggara beserta jajarannya akan dapat menjangkau seluruh wilayah Kalimantan Tenggara dengan frekuensi yang tentunya lebih sering dibandingkan oleh Gubernur jika masih berada dalam Provinsi Kalimantan Selatan.

Ketiga, secara kapabilitas, Tanah Bumbu dan Kotabaru mampu untuk menjadi Kalimantan Tenggara dengan segala potensi dan kemampuan yang ada. Pelabuhan dermaga Pelabuhan Samudera Batulicin secara posisi yang berada di laut lebih unggul dibandingkan pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang “hanya” berada di Sungai. Pelabuhan bongkar muat barang (peti kemas) pelabuhan Batulicin masih dapat ditingkatkan kapasitasnya. Sementara bandara Bersujud Batulicin dan Gusti Syamsir Alam Kotabaru juga masih berpotensi untuk diperpanjang landasan pacunya. Selain itu, yang utama dan penting adalah dukungan Sumber Daya Manusianya. Banyak Tokoh-tokoh yang berasal dari Tanah Bumbu dan Kotabaru, yang mengatakan sudah selayaknya Kalimantan Tenggara dibentuk, seperti dr. H.M. Zairullah Azhar, M.Sc Bupati Pertama Tanah Bumbu, H Sjachrani Mataja dan H Irhami Ridjani[ii], mantan bupati Kotabaru. Dukungan dari mereka tentu sangat penting untuk memperlancar proses mewujudkan Kalimantan Tenggara yang Sejahtera.

*Tulisan ini bukan pada posisi menolak ataupun mendukung terbentuknya Provinsi Kalimantan Tenggara. Penulis berada pada posisi yang netral. Penulis hanya mengangkat keresahan sebagai penduduk Tanah Bumbu. Kita sepakat bahwa kesejahteraan penduduk di suatu daerah menjadi prioritas dan tujuan utama dari pembangunan. Jika membentuk daerah otonomi baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya, mengapa tidak dilakukan?. Tentunya tanpa harus diiringi konflik sesama saudara yang justru akan mengorbankan tujuan pembangunan itu sendiri.

Sumber Rujukan:

[i] http://www.kompasiana.com/imizona/inilah-calon-propinsi-baru-di-kalimantan-kalimantan-tenggara_552b25f16ea834bc66552cf7

[ii] http://www.antarakalsel.com/berita/404/provinsi-kalimantan-tenggara-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s